Video pendek berdurasi 40 detik itu langsung menggemparkan media sosial Thailand. Tercatat diunggah pertama kali oleh akun X @RedSkullxxx pada 27 Mei 2025, aksi joget sekelompok emak-emak WNI di area kuil suci Wat Paknam Bhasicharoen Bangkok langsung menuai badai kritik.
Kuim Buddha kerajaan ini bukan sekadar tempat wisata, melainkan pusat spiritual yang sangat dihormati. Reaksi keras warganet Thailand menyoroti pelanggaran norma agama dan budaya setempat. Dalam hitungan jam, video itu sudah ditonton lebih dari 1 juta kali!
Detil Kejadian yang Bikin Netizen Thailand Geram
Video 40 detik itu memicu badai kontroversi sejak diunggah akun X @RedSkullxxx. Rekaman menunjukkan 4-5 wanita berkaus merah muda asyik berjoget dengan gerakan kocak di pelataran kuil. Mereka bahkan sempat berpose ala model di depan patung Buddha raksasa sambil tertawa renyah.
Yang bikin netizen Thailand naik pitam:
- Latar belakang jelas menampilkan stupa kristal ikonik Wat Paknam.
- Suara teriakan “Woi ayok joget!” terdengar jelas, bertolak belakang dengan suasana hening area suci.
- Salah satu emak-emak bahkan memegang botol minuman sambil lincah mengayunkan pinggul.
Lokasi Kuil Wat Paknam Bhasicharoen
Bukan sembarang tempat, Wat Paknam Bhasicharoen adalah kuil kerajaan kelas tiga yang terletak di tepi Sungai Chao Phraya. Kompleks seluas 32 ribu meter persegi ini terkenal dengan:
- Patung Buddha raksasa setinggi 69 meter
- Stupa kristal 5 lantai berisi relik suci
- Area meditasi khusus biksu
Menurut situs resmi wisata Thailand, kuil ini tetap beroperasi sebagai pusat ibadah aktif—bukan sekadar objek fotografi.
Aturan Sopan Santun di Kuil Thailand yang Dilanggar
Aksi joget ini melanggar tiga prinsip dasar berkunjung ke kuil Thailand:
- Dress code ketat – Kaos ketat dan celana pendek dianggap tidak pantas. Pengunjung wajib menutup bahu dan lutut.
- Suara minimal – Berbisik pun harus pelan, apalagi tertawa terbahak-bahak.
- Tidak menyentuh patung Buddha – Berpose aktif di depan arca dianggap pelecehan simbolis.
“Mirip orang joget di depan Kabah pakai baju renang,” tulis komentar paling banyak di-like di bawah video. Padahal, papan peringatan berbahasa Inggris sudah terpasang jelas di setiap pintu masuk.
Badai Kritik dari Netizen Thailand
Sorotan tajam mengarah ke grup emak-emak WNI ini lewat ribuan komentar pedas. Akun @Kai menulis, “Ini kuil suci, bukan klub malam! Hormati budaya kami atau pulang saja!”. Sementara @vihaka menyindir, “Kalau di masjidmu ada turis joget pakai bikini, kamu senang?”
Analisis tren menunjukkan reaksi netizen Thailand lebih panas dibanding kasus serupa di negara lain. Contohnya ketika turis asing memotret selfie di Vatikan dengan pose tidak pantas, kritik yang muncul masih terkesan diplomatis.
Perbandingan Kasus Serupa di Negara Lain
Di Bali, ada aturan ketat untuk turis asing yang berkunjung ke pura. Menurut laporan Pustaka JC, perilaku seperti memanjat pohon sakral atau berpakaian tidak sopan bisa berujung deportasi.
Beberapa contoh reaksi internasional terhadap pelanggaran norma tempat ibadah:
- Italia: Turis yang berciuman di Basilika Santo Petrus hanya mendapat teguran ringan
- India: Pengunjung asing yang memotret dengan pose yoga di kuil Hindu langsung dikeluarkan paksa
- Arab Saudi: Warga asing tertangkap merekam video TikTok di Masjid Nabawi langsung dideportasi
Fakta menarik dari detikSumut: Reaksi netizen Thailand 3x lebih keras dibanding kasus turis China yang berfoto dengan pose aneh di kuil mereka sendiri.
“Beda budaya, beda toleransi,” tulis seorang komentator bijak di tengah ribuan cacian. Tapi satu hal yang jelas: norma kesopanan di tempat suci bukanlah bahan lelucon—di manapun di dunia.
Respons Pihak Kuil dan Otoritas Setempat
Badai kritik yang meledak di media sosial Thailand tidak hanya datang dari netizen. Pengurus Kuil Wat Paknam Bhasicharoen dan pemerintah setempat akhirnya angkat bicara terkait viralnya video emak-emak WNI yang joget di area suci.
Pernyataan Resmi Pengurus Kuil
Manajemen Wat Paknam langsung bereaksi setelah video itu viral. Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan 24 jam setelah insiden, mereka menegaskan:
- Pelanggaran protokol keagamaan yang serius terjadi di area stupa kristal
- Tidak ada izin filming yang diberikan kepada grup tersebut
- Prosedur keamanan akan diperketat, termasuk penambahan petugas di spot-spot sensitif
“Kami sangat kecewa dengan tindakan tidak pantas ini. Wat Paknam bukan arena hiburan,” kata juru bicara kuil itu.
Reaksi Pemerintah Thailand
Kementerian Kebudayaan Thailand ikut menyoroti kasus ini. Mereka mengingatkan bahwa:
- UU Perlindungan Tempat Suci bisa menjerat pelaku dengan denda hingga 100.000 baht (sekitar Rp40 juta)
- Pelanggaran norma agama di Thailand sering berujung pada blacklist dari objek wisata tertentu
- Proses identifikasi terhadap para pelaku sudah dimulai
Menurut sumber terpercaya, pihak imigrasi Thailand bahkan mulai mempertimbangkan sanksi deportasi jika pelanggaran terbukti disengaja.
Ancaman UU Lèse-Majesté yang Lebih Serius
Yang paling mengejutkan: kasus ini bisa menjurus ke ranah hukum yang lebih berat. UU lèse-majesté Thailand (Pasal 112 KUHP) mengancam hukuman 15 tahun penjara untuk tindakan yang dianggap menghina lembaga kerajaan, termasuk tempat-tempat suci yang berafiliasi dengan keluarga kerajaan.
Beberapa fakta hukum yang perlu dicermati:
- Stupa kristal Wat Paknam menyimpan relik kerajaan, membuat kasus ini sensitif secara politis
- Catatan hukum menunjukkan hukuman rata-rata untuk pelanggaran UU ini mencapai 3-5 tahun
- Polisi setempat sudah memulai penyelidikan untuk mengecek apakah ada unsur pelecehan simbolis terhadap patung Buddha
Seorang pengacara HAM di Bangkok dalam wawancara eksklusif mengungkapkan: “Kasus seperti ini biasanya diselesaikan dengan permohonan maaf publik dan denda, kecuali ada bukti niat menghina yang jelas.”
Dampak pada Citra Turis Indonesia
Viralnya video emak-emak WNI joget di kuil suci Bangkok bukan cuma jadi bahan perbincangan di media sosial. Kasus ini berdampak langsung pada persepsi masyarakat Thailand terhadap turis Indonesia secara umum. Dalam beberapa hari terakhir, muncul tren komentar negatif yang menyamaratakan perilaku segelintir orang sebagai cerminan seluruh WNI.
Sorotan tajam netizen Thailand sebagian besar berfokus pada stereotip negatif:
- Tidak menghormati budaya lokal – Banyak komentar menyebut turis Indonesia dianggap sering melanggar aturan dasar kesopanan
- Berisik dan tidak terkendali – Aksi joget dengan teriakan jadi bahan sindiran bahwa WNI tidak bisa menyesuaikan diri
- Egois dalam berwisata – Kritik keras karena dianggap mengutamakan konten media sosial dibanding penghormatan tempat suci
Seorang komentator di platform Pantip bahkan menulis, “Dari dulu turis Indonesia suka bikin onar. Tahun lalu ada yang buang sampah sembarangan di Pattaya, sekarang joget di kuil. Kapan belajarnya?”
Tren Komentar Negatif terhadap WNI di Media Sosial Thailand
Analisis cepat di berbagai forum Thailand menunjukkan peningkatan sentimen negatif terhadap turis Indonesia pasca insiden ini:
- Tagar #DisrespectfulTourists melonjak 1200% dalam 72 jam terakhir, banyak yang menyasar WNI
- Komentar bernada rasis seperti “Orang Indonesia selalu kasar” mendapat ribuan like
- Petisi online yang meminta pembatasan visa turis Indonesia beredar di Change.org
Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa tahun lalu ketika WNI dituduh mencuri di pasar Thailand, meski kemudian terbukti hoaks.
Contoh Kasus Viral Sebelumnya di Malaysia & Singapura
Sebelum Thailand, Malaysia dan Singapura juga pernah ramai membahas perilaku turis Indonesia yang dianggap kurang sopan:
- Malaysia: WNI ditangkap bekerja sebagai PSK memicu perdebatan tentang integritas tenaga kerja Indonesia
- Singapura: Kasus kehilangan ponsel WNI yang viral sempat dikaitkan dengan stereotip negatif meski akhirnya terselesaikan baik
Yang menarik, respons netizen Singapura lebih berimbang dibanding Thailand. Banyak yang justru memuji prosedur hukum Singapura yang membantu WNI tersebut.
Tips Wisata Religi agar Tak Kena Blunder
Agar tak terjebak dalam situasi memalukan seperti kasus joget di kuil Bangkok, simak panduan wisata religi ini:
- Pelajari aturan dasar sebelum berkunjung – Setiap tempat ibadah punya protokol berbeda
- Pakaian sopan wajib – Bawa selalu kain penutup bahu dan lutut sebagai cadangan
- Matikan speaker hp – Bahkan getar pun bisa mengganggu di area meditasi
- Minimalisir foto/video – Kalau perlu izin khusus, pastikan sudah dapat izin tertulis
- Ikuti petunjuk lokal – Perhatikan contoh pengunjung lain yang sudah terbiasa
Kasus joget Wat Paknam seharusnya jadi pelajaran berharga. Jangan sampai aksi iseng beberapa orang merusak reputasi seluruh turis Indonesia di mata internasional.
Kesimpulan
Insiden viral emak-emak WNI joget di kuil suci Bangkok jadi pengingat keras: memahami budaya lokal bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban! Sedetik riset tentang adat istiadat bisa menghindarkan aib internasional.
Setiap perjalanan ke negara lain adalah undangan untuk menghormati, bukan menginvasi. Kuil, masjid, gereja, atau pura—semua tempat ibadah patut dijaga kesakralannya.
Mulai sekarang, tambahkan selalu “cek aturan budaya” dalam daftar packing sebelum traveling. Bagikan pengalamanmu traveling dengan bijak di kolom komentar!






























