Lumajang, 26 Agustus 2025 — Di tengah perayaan Hari Raya Karo, masyarakat Suku Tengger di Desa Ranupani, Lumajang, Jawa Timur, kembali menggelar tradisi warisan leluhur yang bernama Ojung. Ritual unik ini melibatkan dua pria dewasa saling memukul rotan sebagai simbol pengikat ikatan sosial. Meskipun tampak keras, tradisi ini diwarnai oleh sportivitas tinggi dan rasa kekeluargaan yang mendalam.
1. Penutupan Hari Raya Karo dengan Ojung
Suku Tengger memperingati Hari Raya Karo dengan berbagai prosesi sakral, yang ditutup dengan tradisi Ojung. DetikTravel melaporkan, “Sejumlah warga Suku Tengger saling memukul menggunakan rotan… Tradisi… bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan.” Setelah adu rotan, para peserta pun saling berpelukan, menunjukkan bahwa Ojung adalah perjuangan simbolik bukan pertikaian. detikTravel
2. Makna Mendalam di Balik Tradisi Rotan
Tujuan utama Ojung bukan kekerasan, melainkan simbol keterbukaan hati dan kemurnian niat. Antar pemukul, cambukan dianggap sebagai bentuk pengorbanan untuk menjaga kebersamaan. Setiap pukulan, walau tampak menyakitkan, adalah tao petualangan spiritual dalam masyarakat Tengger. detikTravelResearchGate
Menurut penelitian akademis (Jurnal Ilmu Komunikasi, 2022), Ojung juga dilihat sebagai simbol komunal: rotan adalah simbol kekuatan pribadi, kejujuran, dan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan, serta sarana komunikasi simbolik antarwarga. ResearchGate
3. Variasi Ojung di Daerah Lain
Meski terutama dikenal dalam masyarakat Tengger, tradisi Ojung juga ditemukan di daerah lain di Jawa Timur, seperti Situbondo dan Madura. Sumber dari Kemendikbud mencatat bahwa Ojung adalah ritual yang dimainkan bergantian oleh dua pria dewasa yang saling menangkis setiap pukulan dengan rotan. Kebudayaan Kemdikbud
Berbeda konteksnya, di Madura, Ojung disebut sebagai sarana menghindari bencana atau meminta hujan, sementara masyarakat Tengger menggelarkannya khusus setiap Hari Raya Karo — perayaan sakral untuk menyambung silaturahmi. Wikimedia CommonsKebudayaan Kemdikbud
4. Menggali Filosofi Ojung — Simbol Keberanian dan Doa
Tradisi ini bukan atraksi semata. Masyarakat Tengger memandangnya sebagai cerminan nilai keberanian, pengorbanan, dan penyatuan harmoni. Dalam ritual ini, darah yang jatuh dianggap sebagai simbol doa agar tanah diberkati hujan dan tanah pertanian tetap subur. ResearchGate
Simbolisasi alat (rotan, sarung, peci), musik, sesajen, hingga tumpeng digunakan sebagai komponen pemaknaan mendalam melalui interaksi sosial dan ritual. Semua elemen ini mengikat komunitas dalam makna tradisi dan doa bersama. ResearchGate
5. Konteks Geografis dan Budaya Tengger
Suku Tengger adalah sub-etnis Jawa yang mendiami wilayah pegunungan Taman Nasional Bromo – Tengger – Semeru. Mereka adalah salah satu dari sedikit komunitas Hindu Jawa yang tetap memegang tradisi leluhur sejak era Majapahit. Wikipedia
Lingkungan alam ekstrem tempat mereka tinggal memberikan konteks kuat terhadap adaptasi budaya seperti permohonan hujan, ritual pertanian, dan penguatan solidaritas melalui tradisi seperti Ojung. warung168
6. Simpati dan Konservasi Budaya
Tradisi Ojung mencerminkan keragaman budaya Indonesia dan kekayaan warisan lokal. Media nasional seperti detikTravel turut mengabadikan momen ini melalui foto dokumenter kepada masyarakat luas. detikTravel
Pelestarian tradisi membutuhkan upaya kolaboratif antara masyarakat lokal, akademisi, dan pemerintah. Given nilai komunikatif dan spiritual dari Ojung, penting untuk melindunginya dari distorsi modernisasi.
7. Ringkasan Tabel: Ojung dalam Satu Tinjauan
| Aspek | Penjabaran |
|---|---|
| Apa itu Ojung? | Ritual pukul-pukulan dengan rotan antarpeserta sebagai simbol persaudaraan |
| Waktu Pelaksanaan | Penutupan Hari Raya Karo |
| Lokasi Utama | Desa Ranupani (Lumajang), juga di Tengger, Situbondo, Madura |
| Makna Simbolik | Kepahlawanan, kebersamaan, doa untuk hujan dan kesuburan |
| Fungsi Sosial | Memperkuat ikatan sosial, penyatuan komunitas |
| Variasi Regional | Madura – penghindar bencana; Tengger – ritual silaturahmi |





























