Baru-baru ini, Candi Borobudur ramai diperbincangkan karena pemasangan stairlift sementara untuk kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Fasilitas ini dipasang demi memudahkan aksesibilitas kedua pemimpin negara saat menapaki tangga candi yang curam.
Namun, pro dan kontra langsung mencuat. Di satu sisi, stairlift dinilai memberikan solusi praktis untuk wisatawan dengan mobilitas terbatas. Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan dampaknya terhadap keaslian situs warisan dunia berusia ribuan tahun ini.
Detail Teknis Pemasangan Stairlift
Pemasangan stairlift di Candi Borobudur dilakukan di sisi kanan tangga menuju lantai 3 hingga 7. Desainnya menggunakan plat baja portabel berlapis anti karat dengan berat total sekitar 160kg per unit. Yang menarik, model ini menggunakan sistem modular yang bisa dibongkar dalam hitungan jam tanpa meninggalkan jejak permanen.
Sistem Penyangga Non-Invasif
Pemasangannya tidak menggunakan metode konvensional seperti pengeboran atau paku. Alih-alih, teknisi memanfaatkan sistem counterweight berbobot 300kg yang dipasang di platform khusus. Teknik ini mirip dengan pendekatan zero intrusion yang dipakai di bangunan bersejarah Eropa.
Dua metode utama yang digunakan:
- Bracket adjustable: Menempel pada permukaan batu menggunakan klem berlapis karet neoprene
- Sand ballast system: Sistem pemberat yang didistribusikan merata di sepanjang jalur rel
Perbandingan Biaya dengan Stairlift Komersial
Di pasar komersial, harga stairlift bervariasi tergantung tipe rel:
- Straight rail: Rp44.8-92.3 juta per unit
- Curved rail: Rp112.7-180.8 juta (karena fabrikasi khusus)
Sesuai data pasar 2025, biaya proyek heritage seperti Borobudur biasanya 2-3 kali lipat harga komersial karena pertimbangan:
- Material khusus
- Tenaga ahli konservasi
- Asuransi kerusakan
Reaksi Berbagai Pihak
Pemasangan stairlift di Candi Borobudur memicu tanggapan beragam dari para pemangku kepentingan. Mulai dari ahli warisan budaya yang khawatir akan dampaknya, komunitas disabilitas yang menyambut positif, hingga jawaban resmi dari pengelola.
Kekhawatiran Ahli Arkeologi
Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) angkat bicara soal risiko kerusakan fisik dan penurunan citra situs warisan dunia ini. Mereka mengingatkan bahwa perubahan apa pun di kawasan cagar budaya harus mengacu pada UU No.11/2010 tentang Cagar Budaya.
Beberapa poin utama yang mereka tekankan:
- Potensi abrasi permukaan batu akibat gesekan
- Dampak visual yang mengganggu keaslian struktur candi
- Perlindungan nilai autentisitas sebagai warisan dunia UNESCO
Dukungan Komunitas Disabilitas
Di sisi lain, Tanto Soegito Harsono dari Walubi menyebut ini sebagai terobosan penting. “Akses bagi penyandang disabilitas selama ini terbatas, ini langkah maju,” ujarnya melalui Twitter.
Bhante Rungdet, seorang biksu senior, menambahkan dari aspek filosofi: “Borobudur dibangun sebagai tempat pembebasan penderitaan. Aksesibilitas justru selaras dengan semangat itu.”
Klarifikasi InJourney
Manajemen PT TWC Borobudur (di bawah InJourney) memberikan penjelasan resmi:
- Stairlift bersifat sementara, khusus untuk kunjungan VIP
- Tidak ada perubahan permanen pada struktur candi
- Bukan eskalator, melainkan sistem transportasi kursi tunggal
Mereka juga menyebut tidak ada kerusakan yang terjadi selama pemasangan. Sistem yang dipakai dirancang khusus oleh tim ahli konservasi untuk meminimalkan sentuhan langsung dengan batu kuno.
Pilihan Alternatif yang Sempat Diusulkan
Sebelum memutuskan menggunakan stairlift, pengelola Candi Borobudur sempat mempertimbangkan beberapa opsi lain. Setiap alternatif memiliki kelebihan sekaligus tantangan tersendiri, terutama terkait kelayakan teknis dan dampak terhadap struktur candi.
Tandu Tradisional (Palanken)
Sistem pengangkutan manual dengan palanken sempat dipertimbangkan sebagai solusi paling minimalis. Cara ini sebenarnya sudah dipakai di beberapa kompleks candi terpencil. Namun terbukti kurang praktis untuk Borobudur karena:
- Jumlah tangga terlalu banyak: Total 2.672 panel relief dengan ketinggian berbeda-beda
- Risiko keamanan: Potensi terpeleset saat hujan atau cuaca lembap
- Waktu tempuh lama: Rata-rata 45 menit untuk mencapai puncak
Ramp Kayu ala Angkor Wat
Kamboja memilih membuat jalur kayu sementara di Angkor Wat untuk acara khusus. Sistem ini sempat diteliti tapi cepat dikesampingkan karena:
- Kebutuhan ruang: Dibutuhkan area 3x lebih lebar dibanding stairlift
- Material sensitif: Kayu bereaksi terhadap kelembapan tinggi di Borobudur
- Instalasi rumit: Harus menyesuaikan kontur tangga yang tidak seragam
Solusi Teknologi Ringan
Beberapa ahli mengusulkan teknologi non-fisik seperti tur virtual reality atau augmented reality. Meski inovatif, solusi ini belum bisa memenuhi kebutuhan:
- Pengalaman langsung: Banyak pengunjung ingin merasakan atmosfer candi secara fisik
- Aspek spiritual: Tidak menggantikan ritual nyata seperti berjalan mengelilingi stupa
Alasan utama stairlift akhirnya dipilih terletak pada fleksibilitasnya. Sistem ini bisa dipasang dan dicopot dalam hitungan jam tanpa mengubah struktur candi. Bandingkan dengan ramp kayu yang membutuhkan setidaknya 3 hari pemasangan, atau palanken yang bergantung pada tenaga manusia.
Dampak Jangka Panjang & Preseden Global
Pemasangan stairlift di Borobudur bukan sekadar tentang aksesibilitas hari ini. Ini membuka percakapan lebih besar: bagaimana situs warisan dunia bisa tetap relevan tanpa mengorbankan integritasnya. Borobudur bukan yang pertama menghadapi dilema ini. Shwedagon Pagoda di Myanmar sudah lebih dulu mencari titik temu antara konservasi dan inklusivitas.
Borobudur vs. Shwedagon: Dua Pendekatan Berbeda
Shwedagon Pagoda, salah satu situs Buddhis tersuci di dunia, memilih jalur berbeda. Mereka memasang lift permanen di sisi timur yang dirancang mirip struktur tradisional. Bedanya dengan Borobudur:
- Material: Menggunakan batu lokal yang menyatu dengan arsitektur asli
- Lokasi: Dibangun di area yang bukan bagian utama pagoda
- Fitur tambahan: Dilengkapi jalan landai dengan pegangan khusus
Tapi solusi Shwedagon tidak serta merta bisa ditiru Borobudur. Candi kita punya tantangan unik:
- Struktur vertikal: Tangga Borobudur lebih curam dan sempit
- Material sensitif: Batu andesit lebih rentan daripada bata di Shwedagon
- Protokol UNESCO: Borobudur masuk daftar warisan dunia dengan regulasi lebih ketat
Tren Global: Aksesibilitas Tanpa Merusak Autentisitas
Dunia sedang bergerak ke arah solusi hybrid. Data terbaru menunjukkan beberapa pola menarik:
- 71% situs warisan dunia kini punya minimal satu fasilitas aksesibilitas
- 55% memilih modifikasi sementara ketimbang permanen
- Teknologi imersif seperti tur virtual mulai dilirik untuk area ultra-sensitif
Seperti diungkapkan dalam prinsip inklusivitas UNESCO, kuncinya ada pada “intervensi minimal dengan dampak maksimal”. Ambil contoh:
- Colosseum: Memasang lift kaca transparan di area bekas gladiator
- Angkor Wat: Membuat jalur kayu yang bisa dibongkar pasang
- Machu Picchu: Mengombinasikan kereta kecil dengan jalur alternatif
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Fenomena stairlift Borobudur meninggalkan beberapa diskusi terbuka:
- Standarisasi global: Perlukah UNESCO membuat pedoman khusus untuk modifikasi aksesibilitas?
- Skala prioritas: Haruskah setiap candi punya solusi berbeda-beda?
- Partisipasi komunitas: Sejauh mana suara penyandang disabilitas dipertimbangkan?
Yang jelas, kasus Borobudur sedang menguji batas-batas pelestarian di era modern. Seperti diskusi terbaru tentang makna universal warisan budaya, bukan cuma tentang melindungi batu-batu tua. Tapi juga memastikan nilai-nilainya tetap hidup dan bisa diakses generasi sekarang.
Pelajaran dari Shwedagon dan situs lain menunjukkan: solusi terbaik biasanya muncul ketika semua pihak duduk bersama. Bukan cuma ahli konservasi dan arsitek, tapi juga penyandang disabilitas, komunitas lokal, dan praktisi spiritual.
Conclusion
Kasus stairlift Borobudur menyisakan pertanyaan penting: bagaimana Indonesia bisa memenuhi hak disabilitas tanpa mengorbankan pelestarian cagar budaya?
Dari Acropolis hingga Angkor Wat, dunia sudah memberi contoh solusi kreatif. Tantangannya adalah menciptakan pendekatan lokal yang seimbang antara aksesibilitas dan konservasi.
Bagaimana pendapatmu? Apa solusi terbaik untuk situs warisan kita yang rapuh tapi juga harus inklusif?






























